Skip to main content

Lagu "Halaqah cinta" kang abay motivasinger


it's something bangett,, pertama denger lagu ini langsung suka apalagi liriknya,,, keren dahh,,, ini biar gak pada penasaran nina kasih liriknya,,

Halaqah Cinta


Ribuan malam
Menatap bintang dan harapan
Dan ribuan siang
Menahan terik penantian

Mungkin tuhan ingin
Kita sama-sama tuk mencari
Saling merindukan
Dalam do'a-do'a mendekatkan jarak kita

Reff:
Tuhan pertemukan
Aku dengan kekasih pilihan
Seseorang yang mencintai-Mu
Mencintai Rasul-Mu
di Multazam ku meminta

Ribuan pagi
Menatap terbit matahari
Dan ribuan senja
Menahan gemuruh di dada

Mungkin tuhan ingin
Kita sama-sama tuk mencari
Saling merindukan
Dalam do'a-do'a mendekatkan jarak kita

*back to Reff *

Hingga malaikat pun tersenyum mendo'akan kita
Menguatlah keyakinan dihati
 
*back to Reff *

Tuhan persatukan
Aku dengan kekasih pilihan
Seseorang yang kan menemaniku menuju surga-Mu
Halaqah cinta
Tempat hati bertemu

Halaqah cinta
tempat hati bersatu

Comments

Popular posts from this blog

Karena semua yang ingin kuungkapkan

Karena semua yang ingin kuungkapkanTak harus kukatakan dengan lisan Tak harus kuungkapkan dengan perbuatan Karena memang belum waktunya bagiku menunjukkan Menyebut namamu saja membuat bibirku bergetar Melihat wajahmu saja membuat jantungku berdetak hebat Lalu bagaimana aku bisa katakan isi hatiku padamu? Lidahku kelu saat ingin mengucap rindu Hatiku pilu saat menahan rasa ingin bertemu Tapi aku tahu, Meski aku tak mampu sampaikan itu Kau akan rasakan kehadiranku di dalam hatimu

Aku Pamit

Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi kalimat berisi dua kata itu dihapus lagi. Ia justru mematikan handphonenya. Menyimpan di bawah bantal. Kemudian, ia menangis. Menangis pelan namun deras. Tidak ada artinya kata pamit. Semua berawal tanpa kata, selesai pun tanpa kata, pikirnya. Perempuan itu lalu sejenak terdiam, menatap dinding birunya yang mengusam, membaca lembar demi lembar catatannya yang menuliskan semua perasaannya. Perempuan sembilan belas tahun itu masih menangis. Tiga tahun lalu, tanpa kata cinta layaknya sepasang muda-mudi menjalin tali asmara, dua orang ini justru saling menjauh, memilih menghindari perasaan mereka, sampai suatu waktu, tabir-tabir tersingkap dan mereka pun tak mampu menutupi lagi apa yang ada di hati mereka. Tidak ada tali apapun yang mengaitkan hati mereka, sungguh tidak ada. Atau kalaupun ada, mungkin tali itu yang disebut orang-orang bernama perasaan. Perempuan itu, tiga tahu...