Skip to main content

Posts

Surat Untukmu

Hai nin, bagaimana kabarmu hari ini? aku harap kamu baik2 saja. ohh ya apa kamu masih tidur kembali sehabis subuh? itu pasti susah untuk ditinggalkan, benarkan? tapi aku mohon nin, berubahlah jangan biasakan tidur sehabis subuh itu tidak baik. ada baiknya waktumu sehabis subuh kamu gunakan untuk berolahraga atau sekedar menulis, belajarpun tak masalah tapi kalau kamu terlalu malas untuk itu tak apa hanya memainkan hp mu yang penting jangan tidur sehabis subuh.oke. Ohh ya bagaimana pekerjaanmu? aku perhatikan akhir2 ini kamu sering tidak konsen pada pekerjaanmu. kenapa nina? apakah kamu sudah tidak semangat lagi? atau kamu merasa bayaran dan kerja kamu tidak sesuai? pleasee nin kamu jangan berpikir begitu, kamu hanya perlu ikhlas karena ada Allah yang bakalan bayar kamu.oke. mulai sekarang kamu harus kembali fokus sama kerjaan kamu.oke.tenang aku akan selalu mendukung kamu.. Juga aku dengar pengelihatanmu semakin memburuk? benarkah? kenapa nin? coba periksakan, aku tau itu pasti san...
Recent posts

Biarkan Semesta Berbicara

Tidak ada yang perlu disesali dari sebuah perasaan yang menyesakkan, karena fitrahnya manusia mengalami itu. Tapi membiarkan rasa sesak berlarut dalam penantian juga tidak baik. Lebih baik menyibukkan diri belajar, menyibukkan diri memperbaiki kualitas hati dan diri, meyibukkan diri bercerita bersama taman-taman bunga. Perempuan itu, mungkin nanti juga akan jatuh lagi. Mungkin ia akan menangis lagi. Tapi, semoga tulisan ini membuatnya ingat, bahwa takdir-Nya tidak akan pernah tertukar. Semoga tulisan ini membuatnya tegar. Semoga membuat tegar pula perempuan-perempuan lain yang tengah jengah oleh rasa sakit, rindu, galau, dan perasaan lain karena “Langit” mereka.

Tidak Semua Rasa Suka Berbalas Perasaan Yang Sama

Tiba-tiba kamu menyalahkannya, kemudian memberi cap dia sudah memberi harapan palsu. Dan dengan teganya kamu mengatakan dia telah menyakitimu. Padahal dia benar-benar tidak tahu apa-apa. Dia hanya baik kepadamu —sementara kamu menanggapi dengan berlebihan. Dia mungkin memang begitu, baik kepada semua orang. Kamunya saja yang terlalu membawa perasaan. Kini hatimu patah, lalu mengatakan dia salah. Sial bagi dia yang hanya ingin sekadar ramah. Coba ingat-ingat lagi, apa dia pernah mengatakan cinta kepadamu? Apa dia juga menyampaikan rindu untukmu? Atau, bisakah kau temukan kamu di matanya? Jika tidak ada. Jika hanya sekadar sapa biasa, jalan biasa, makan biasa, mungkin baginya kamu memang hanya teman biasa. Lalu, kenapa sekarang kau merasa terluka? Sementara dia sama sekali tidak tahu. Makanya dia tidak peduli. Lalu setelah seperti ini siapa yang akan kamu salahkan. Bukankah semuanya harus jelas. Kalau kamu suka, ya itu urusan perasaanmu. Namun, kamu harus ingat tidak semua ras...

Aku Pamit

Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi kalimat berisi dua kata itu dihapus lagi. Ia justru mematikan handphonenya. Menyimpan di bawah bantal. Kemudian, ia menangis. Menangis pelan namun deras. Tidak ada artinya kata pamit. Semua berawal tanpa kata, selesai pun tanpa kata, pikirnya. Perempuan itu lalu sejenak terdiam, menatap dinding birunya yang mengusam, membaca lembar demi lembar catatannya yang menuliskan semua perasaannya. Perempuan sembilan belas tahun itu masih menangis. Tiga tahun lalu, tanpa kata cinta layaknya sepasang muda-mudi menjalin tali asmara, dua orang ini justru saling menjauh, memilih menghindari perasaan mereka, sampai suatu waktu, tabir-tabir tersingkap dan mereka pun tak mampu menutupi lagi apa yang ada di hati mereka. Tidak ada tali apapun yang mengaitkan hati mereka, sungguh tidak ada. Atau kalaupun ada, mungkin tali itu yang disebut orang-orang bernama perasaan. Perempuan itu, tiga tahu...

Aku yang terlalu mudah jatuh hati

Untuk yang nantinya membaca surat ini, aku hanya ingin kamu tahu. Akhir-akhir ini ada yang memiliki kebiasaan baru. Aku. Memikirkanmu. Kepala menerka-nerka apa yang sedang disajikan realita. Namun, aku tak mengerti. Aku tak bisa mengerti lelucon ini, atau memang selera humorku yang tidak terlalu tinggi. Mengapa kamu? Sejak kapan? Benarkah?  Pertemuan - Perpisahan - Pertemuan, bukankah hanya seperti itu alurnya? Tiba-tiba saja, aku terbiasa dengan adamu. Ketika hampa memenjarakanku, setepat itu kamu tiba. Bukankah dulu kita tak pernah bersentuhan dengan perasaan? Benarkah kita sudah memasuki arena ini? Rasa yang saling berpapasan, lalu nyaman dan memilih tinggal. Sebuah kosong yang dinyamankan oleh sebuah kehadiran. Namun satu sama lain tidak pernah menyadari bahwa ini bukanlah sebuah kebetulan. Atau memang hanya aku yang terjebak dalam jerat rasa yang kuperankan sendirian?  Semua tentangmu jadi sentimentil. Aku tak mengerti mengapa aku jadi takut akan sebuah...

Karena semua yang ingin kuungkapkan

Karena semua yang ingin kuungkapkanTak harus kukatakan dengan lisan Tak harus kuungkapkan dengan perbuatan Karena memang belum waktunya bagiku menunjukkan Menyebut namamu saja membuat bibirku bergetar Melihat wajahmu saja membuat jantungku berdetak hebat Lalu bagaimana aku bisa katakan isi hatiku padamu? Lidahku kelu saat ingin mengucap rindu Hatiku pilu saat menahan rasa ingin bertemu Tapi aku tahu, Meski aku tak mampu sampaikan itu Kau akan rasakan kehadiranku di dalam hatimu

Rahasia yang juga tak terbaca olehmu

Aku tak pandai berhias diri Aku juga tak pandai menggoda hati Yang aku bisa hanyalah menghayati seraya berdoa  Agar Dia membantuku menyampaikan padamu Bahwa ada rahasia hati yang tersembunyi di dalam sini Rahasia yang tak seorang pun tahu Rahasia yang juga tak terbaca olehmu Begitu rahasianya hingga akupun malu bercerita kepada Sang Maha Mengetahui Kelak, jika kau tahu rahasia itu Jangan tanya mengapa padaku Karena akupun tak mengerti bagaimana Dia menitipkan rasa itu hingga menjadi sebuah rahasia Aku berharap suatu hari nanti Rahasia itu tetaplah menjadi rahasia Namun dengan rasa yang berbeda Karena rahasia itu bukan lagi rahasiaku Tetapi rahasia itu akan menjadi milik kita berdua Repost from :  https://www.instagram.com/p/_4J6PbnqfM/?taken-by=putri_prias