Skip to main content

Aku yang terlalu mudah jatuh hati

Untuk yang nantinya membaca surat ini, aku hanya ingin kamu tahu.
Akhir-akhir ini ada yang memiliki kebiasaan baru. Aku. Memikirkanmu. Kepala menerka-nerka apa yang sedang disajikan realita. Namun, aku tak mengerti. Aku tak bisa mengerti lelucon ini, atau memang selera humorku yang tidak terlalu tinggi. Mengapa kamu? Sejak kapan? Benarkah? 
Pertemuan - Perpisahan - Pertemuan, bukankah hanya seperti itu alurnya?
Tiba-tiba saja, aku terbiasa dengan adamu. Ketika hampa memenjarakanku, setepat itu kamu tiba. Bukankah dulu kita tak pernah bersentuhan dengan perasaan? Benarkah kita sudah memasuki arena ini? Rasa yang saling berpapasan, lalu nyaman dan memilih tinggal. Sebuah kosong yang dinyamankan oleh sebuah kehadiran. Namun satu sama lain tidak pernah menyadari bahwa ini bukanlah sebuah kebetulan. Atau memang hanya aku yang terjebak dalam jerat rasa yang kuperankan sendirian? 
Semua tentangmu jadi sentimentil. Aku tak mengerti mengapa aku jadi takut akan sebuah ketiadaan, kepergian dan kehilangan. Mengapa aku ingin telingamu mendengar sesuatu yang berisikan perasaan malu-malu yang kini menjadi pencipta rona pipiku. Tapi aku begitu takut kalau-kalau kamu tak miliki perasaan yang sama. Kalau-kalau harapanku saja yang terlalu tinggi. Sementara rasa semakin menebal, semakin pikiranku berlomba untuk menyangkal, takut-takut kalau kaulah yang nantinya tinggal dengan kekal. Ternyata mengingkari tak semudah ini. Aku terlalu takut jika suatu hari ada pengakuan yang nantinya akan membuat kita menjadi berjauhan. Kalau-kalau kita hanya akan jadi bahan tertawaan semesta, aku yang terlalu mudah jatuh hati dan kamu yang belum mampu mencintai. 

Comments

Popular posts from this blog

Karena semua yang ingin kuungkapkan

Karena semua yang ingin kuungkapkanTak harus kukatakan dengan lisan Tak harus kuungkapkan dengan perbuatan Karena memang belum waktunya bagiku menunjukkan Menyebut namamu saja membuat bibirku bergetar Melihat wajahmu saja membuat jantungku berdetak hebat Lalu bagaimana aku bisa katakan isi hatiku padamu? Lidahku kelu saat ingin mengucap rindu Hatiku pilu saat menahan rasa ingin bertemu Tapi aku tahu, Meski aku tak mampu sampaikan itu Kau akan rasakan kehadiranku di dalam hatimu

Aku Pamit

Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi kalimat berisi dua kata itu dihapus lagi. Ia justru mematikan handphonenya. Menyimpan di bawah bantal. Kemudian, ia menangis. Menangis pelan namun deras. Tidak ada artinya kata pamit. Semua berawal tanpa kata, selesai pun tanpa kata, pikirnya. Perempuan itu lalu sejenak terdiam, menatap dinding birunya yang mengusam, membaca lembar demi lembar catatannya yang menuliskan semua perasaannya. Perempuan sembilan belas tahun itu masih menangis. Tiga tahun lalu, tanpa kata cinta layaknya sepasang muda-mudi menjalin tali asmara, dua orang ini justru saling menjauh, memilih menghindari perasaan mereka, sampai suatu waktu, tabir-tabir tersingkap dan mereka pun tak mampu menutupi lagi apa yang ada di hati mereka. Tidak ada tali apapun yang mengaitkan hati mereka, sungguh tidak ada. Atau kalaupun ada, mungkin tali itu yang disebut orang-orang bernama perasaan. Perempuan itu, tiga tahu...

Lagu "Halaqah cinta" kang abay motivasinger

it's something bangett,, pertama denger lagu ini langsung suka apalagi liriknya,,, keren dahh,,, ini biar gak pada penasaran nina kasih liriknya,, Halaqah Cinta Ribuan malam Menatap bintang dan harapan Dan ribuan siang Menahan terik penantian Mungkin tuhan ingin Kita sama-sama tuk mencari Saling merindukan Dalam do'a-do'a mendekatkan jarak kita