Tiba-tiba kamu menyalahkannya, kemudian memberi cap dia sudah memberi harapan palsu. Dan dengan teganya kamu mengatakan dia telah menyakitimu. Padahal dia benar-benar tidak tahu apa-apa. Dia hanya baik kepadamu —sementara kamu menanggapi dengan berlebihan. Dia mungkin memang begitu, baik kepada semua orang. Kamunya saja yang terlalu membawa perasaan. Kini hatimu patah, lalu mengatakan dia salah. Sial bagi dia yang hanya ingin sekadar ramah.
Coba ingat-ingat lagi, apa dia pernah mengatakan cinta kepadamu? Apa dia juga menyampaikan rindu untukmu? Atau, bisakah kau temukan kamu di matanya? Jika tidak ada. Jika hanya sekadar sapa biasa, jalan biasa, makan biasa, mungkin baginya kamu memang hanya teman biasa. Lalu, kenapa sekarang kau merasa terluka? Sementara dia sama sekali tidak tahu. Makanya dia tidak peduli.
Lalu setelah seperti ini siapa yang akan kamu salahkan. Bukankah semuanya harus jelas. Kalau kamu suka, ya itu urusan perasaanmu. Namun, kamu harus ingat tidak semua rasa suka berbalas perasaan yang sama. Apalagi kamu hanya mampu menerka-nerka dan mengirim kode semata. Jangan begitu, tanpa ada penjelasan dari dirimu kau malah menuduhnya memberi harapan palsu kepadamu.
"Bagaimana aku tidak jatuh hati kepadamu, setelah sedih panjang dan kehilangan meremukan hatiku kau datang menawarkan tenang. Kau membawa hal baru —harapan dan begitu banyak rindu. Kau menjadi peneduh saat gerah jiwaku sebab di hari lalu seseorang mengutuk diri menjadi masa lalu. Kau adalah bagian dari alasan menemukan bahagia kembali. Setelah dibenamkan sedih dan rasa duka sepanjang hari."
Sumber : BOY CANDRA

Comments
Post a Comment