Tiba-tiba kamu menyalahkannya, kemudian memberi cap dia sudah memberi harapan palsu. Dan dengan teganya kamu mengatakan dia telah menyakitimu. Padahal dia benar-benar tidak tahu apa-apa. Dia hanya baik kepadamu —sementara kamu menanggapi dengan berlebihan. Dia mungkin memang begitu, baik kepada semua orang. Kamunya saja yang terlalu membawa perasaan. Kini hatimu patah, lalu mengatakan dia salah. Sial bagi dia yang hanya ingin sekadar ramah. Coba ingat-ingat lagi, apa dia pernah mengatakan cinta kepadamu? Apa dia juga menyampaikan rindu untukmu? Atau, bisakah kau temukan kamu di matanya? Jika tidak ada. Jika hanya sekadar sapa biasa, jalan biasa, makan biasa, mungkin baginya kamu memang hanya teman biasa. Lalu, kenapa sekarang kau merasa terluka? Sementara dia sama sekali tidak tahu. Makanya dia tidak peduli. Lalu setelah seperti ini siapa yang akan kamu salahkan. Bukankah semuanya harus jelas. Kalau kamu suka, ya itu urusan perasaanmu. Namun, kamu harus ingat tidak semua ras...
Sekedar pelampiasan dari sebuah emosi yang tak bisa diungkapkan