Skip to main content

Biarkan Semesta Berbicara



Tidak ada yang perlu disesali dari sebuah perasaan yang menyesakkan, karena fitrahnya manusia mengalami itu. Tapi membiarkan rasa sesak berlarut dalam penantian juga tidak baik. Lebih baik menyibukkan diri belajar, menyibukkan diri memperbaiki kualitas hati dan diri, meyibukkan diri bercerita bersama taman-taman bunga. Perempuan itu, mungkin nanti juga akan jatuh lagi. Mungkin ia akan menangis lagi. Tapi, semoga tulisan ini membuatnya ingat, bahwa takdir-Nya tidak akan pernah tertukar. Semoga tulisan ini membuatnya tegar. Semoga membuat tegar pula perempuan-perempuan lain yang tengah jengah oleh rasa sakit, rindu, galau, dan perasaan lain karena “Langit” mereka.


Kalau takdir sudah berkehendak, maka tidak ada apapun yang bisa memisahkan. Melalui pena ini, kukembalikan hati yang pernah kujaga. Kukembalikan nama yang bertahun membuatku tersenyum juga menangis. Kukembalikan kisah pada keindahan skenario-Nya. Aku ingin berbahagia di taman bungaku. Dan kamu, berbahagialah di hamparan luasmu. Bawa cahayamu jika benar kau ingin jadikanku bulan di malammu. Lakukan saja, jangan janjikan. Toh, takdir Tuhan, tidak akan pernah tertukar.

Aku tak selalu mengerti semesta, dengan segala permainannya. Aku lebih tak mengerti kamu, dengan perhatian sementaranya.

Hingga akhirnya aku semakin tak mengerti tentang kebersamaan yang belum tergapai, namun sudah harus selesai. Kamu hadir tiba-tiba, tanpa aba-aba. Kemudian pergi tanpa mengucap apa-apa. Paling tidak, beri aku pemberitahuan, supaya aku tahu hatimu telah pindah haluan. Paling tidak, beri aku tamparan, supaya aku tahu bahwa kita sudah tak lagi miliki harapan. Semesta sudah pasti tahu, memang langkahku tak seharusnya mengarah padamu.


Sumber : http://ceritahimsa.com/


Ahimsa Azaleav

Comments

Popular posts from this blog

Karena semua yang ingin kuungkapkan

Karena semua yang ingin kuungkapkanTak harus kukatakan dengan lisan Tak harus kuungkapkan dengan perbuatan Karena memang belum waktunya bagiku menunjukkan Menyebut namamu saja membuat bibirku bergetar Melihat wajahmu saja membuat jantungku berdetak hebat Lalu bagaimana aku bisa katakan isi hatiku padamu? Lidahku kelu saat ingin mengucap rindu Hatiku pilu saat menahan rasa ingin bertemu Tapi aku tahu, Meski aku tak mampu sampaikan itu Kau akan rasakan kehadiranku di dalam hatimu

Aku Pamit

Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi kalimat berisi dua kata itu dihapus lagi. Ia justru mematikan handphonenya. Menyimpan di bawah bantal. Kemudian, ia menangis. Menangis pelan namun deras. Tidak ada artinya kata pamit. Semua berawal tanpa kata, selesai pun tanpa kata, pikirnya. Perempuan itu lalu sejenak terdiam, menatap dinding birunya yang mengusam, membaca lembar demi lembar catatannya yang menuliskan semua perasaannya. Perempuan sembilan belas tahun itu masih menangis. Tiga tahun lalu, tanpa kata cinta layaknya sepasang muda-mudi menjalin tali asmara, dua orang ini justru saling menjauh, memilih menghindari perasaan mereka, sampai suatu waktu, tabir-tabir tersingkap dan mereka pun tak mampu menutupi lagi apa yang ada di hati mereka. Tidak ada tali apapun yang mengaitkan hati mereka, sungguh tidak ada. Atau kalaupun ada, mungkin tali itu yang disebut orang-orang bernama perasaan. Perempuan itu, tiga tahu...

Lagu "Halaqah cinta" kang abay motivasinger

it's something bangett,, pertama denger lagu ini langsung suka apalagi liriknya,,, keren dahh,,, ini biar gak pada penasaran nina kasih liriknya,, Halaqah Cinta Ribuan malam Menatap bintang dan harapan Dan ribuan siang Menahan terik penantian Mungkin tuhan ingin Kita sama-sama tuk mencari Saling merindukan Dalam do'a-do'a mendekatkan jarak kita